Menjawab Panggilan Hati
Guru MenulisPertemuan untuk pertama kali berkenalan dengan Yayasan Yohanes Gabriel adalah saat sekolah kami diakuisisi dari kepemilikan lama ke Yayasan Yohanes Gabriel. Saat itu banyak sekali perubahan yang sangat drastis, mulai dari manajemen dan arah sekolah hingga banyak teman saya yang resign.
Kala itu saya pun keluar dari pekerjaan karena saya hamil dan memiliki bayi yang harus saya rawat. Saya merasa nyaman dan mendapatkan pekerjaan yang lebih fleksibel sebagai ibu dan salary yang jauh lebih tinggi dari Yayasan Yohanes Gabriel. Tetapi banyak rekan guru dan wali murid sering menelepon dan meminta bantuan untuk mengajar kembali. Jujur saya bimbang dan berat untuk kembali karena saya juga mendapatkan pekerjaan yang salary lebih jauh dan fasilitas jauh lebih baik.
Kemudian saya berdoa Novena dan saya kaget setiap berdoa saya selalu ada bisikan: “Melu aku ae.“ Saya masih belum yakin dengan bisikan itu. Secara manusiawi, saya tidak akan memilih pekerjaan ini karena secara salary, banyak sekali yang harus saya keluarkan untuk membayar rumah baru, anggota keluarga baru, dan juga alat transportasi untuk keluarga. Tetapi di akhir Doa Novena saya ada bisikan lagi: “Ojo kuwatir percaya ae.” Kemudian saya merenung apa maksud dari kalimat-kalimat itu. Saya mulai belajar memahami bahwa pilihan Tuhan mungkin tidak sesuai pilihan saya.
Saya berusaha memahami kehendak Tuhan, lalu kembali bekerja di Yayasan Yohanes Gabriel dan percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan saya berkekurangan, walaupun secara manusia pilihan saya ini tidak masuk akal. Suami dan teman saya juga kadang mengatakan saya aneh dan kurang cerdas mengambil pilihan ini.
![]() |
| Kegiatan siswa-siswi SDS St. Mary | Dok. Sekolah |
Ini sungguh ajaib. Kuasa Tuhan tidak ada yang mustahil. Saya bisa memenuhi segala keperluan kami dengan kasih karunia Tuhan. Terima kasih, ya Tuhan, Engkau selalu menyertai kami hingga hari ini. Walaupun kepala sekolah dan rekan guru silih berganti dari sekolah ini, saya percaya Tuhan-lah pemilik dan pengelola sekolah ini. Saya yakin dan percaya segala masalah dan cobaan dalam pekerjaan selalu mohon penyertaan Tuhan agar dapat menyelesaikannya.
Banyak hal yang bisa saya dapatkan ketika bekerja di sini. Setiap hari berkembang dalam iman karena kami berdoa pagi dan pulang serta renungan harian setiap hari. Kami juga bisa mengikuti libur sesuai kalender Katolik sehingga kita bisa ke gereja sesuai jadwal. Kami juga mendapatkan potongan saat anak kami bersekolah di Yayasan Yohanes Gabriel. Selain itu, saya bisa mengikuti retret dan pengakuan dosa setahun dua kali.
Sekolah sangat membantu guru-guru yang sibuk bekerja. Yang paling penting, kami bertemu rekan-rekan guru yang memiliki iman yang sama. Jika saya bekerja di tempat lain, mungkin ini yang paling sulit didapatkan komunitas Katolik. Saya berharap Yayasan Yohanes Gabriel semakin jaya dan memperhatikan Sekolah secara adil dan lebih sering visitasi ke sekolah saat anak-anak belajar tanpa jadwal agar mengetahui kondisi sekolah secara riil, serta memberikan dukungan dengan cara mendengarkan secara langsung masukan dari guru, wali murid, murid dan karyawan. Terima kasih banyak telah diberikan kesempatan untuk bekerja di sini.


