Sejarah
Perjalanan Panjang Dalam Melayani Pendidikan
Sejak tahun 1925, Yayasan Yohannes Gabriel terus menghadirkan karya pendidikan yang transformatif, berintegritas, dan berakar pada nilai-nilai Kristiani.
Membangun Generasi Melalui Pendidikan
Yayasan Yohannes Gabriel hadir sebagai bagian dari perjalanan pelayanan Gereja Katolik dalam bidang pendidikan. Berawal dari karya misi, yayasan terus bertumbuh menjadi lembaga pendidikan yang melayani berbagai generasi dengan semangat iman, kualitas, dan pengabdian.
Hingga saat ini, Yayasan Yohannes Gabriel terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi pelayanan.
Membuka Jalan Bagi Misi
Yayasan Yohannes Gabriel hadir sebagai ujung tombak karya misi Gereja Katolik melalui bidang pendidikan. Kehadirannya memperkenalkan wajah Gereja yang dekat dengan masyarakat pribumi Jawa dan Tionghoa pada masa itu.
Didirikan pada 21 Oktober 1925 dengan nama Johannes Gabrielstichting oleh Theophiel Emile de Backere dan Cornelius Antonius Clamer, yayasan ini berdiri dua tahun setelah kehadiran Congregatio Missionis (CM) di Surabaya.
Sekolah pertama yang didirikan adalah HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Blitar pada 1 Juli 1926, yang kini dikenal sebagai SMA Diponegoro Blitar.
Gedung awal HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Blitar (1926). Klik untuk memperbesar.
Kejayaan di Tengah Tantangan
Masa pendudukan Jepang menjadi periode penuh tantangan bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah negeri maupun swasta ditutup, termasuk sekolah-sekolah misi.
Namun, HIS Yohanes Gabriel di Blitar tetap berupaya mempertahankan keberlangsungan pendidikan. Kepala sekolah saat itu menghadap pemerintah Jepang untuk memohon izin membuka kembali sekolah. Upaya tersebut berhasil, dan pada 28 Mei 1942 HIS Yohanes Gabriel diizinkan kembali beroperasi.
Peristiwa ini menjadi tanda semangat perjuangan dan keteguhan Yayasan dalam melayani pendidikan di tengah situasi sulit.
Retret Guru Blitar (1933). Klik untuk memperbesar.
Pemulihan dan Antisipasi
Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, Yayasan Yohannes Gabriel berfokus pada pemulihan karya pendidikan sekaligus mengantisipasi dinamika politik antara Indonesia dan Belanda.
Sebagai langkah strategis, didirikan Yayasan Wijana Sejati pada 7 Juli 1958 untuk menghadapi kemungkinan tantangan yang muncul akibat hubungan politik saat itu. Dalam periode ini, sekitar 40 sekolah berhasil dibangun kembali sebagai wujud kebangkitan dan pemulihan karya pendidikan Yayasan.
Akta Pendirian Yayasan Yohannes Gabriel dan Yayasan Wijana Sejati. Klik untuk memperbesar.
Mekar dan Mengakar
Pada tahun 1960, kantor pusat Yayasan Yohannes Gabriel berpindah dari Jl. Kepanjen 9 ke Jl. Dinoyo 42 Surabaya.
Periode ini ditandai dengan perkembangan besar dalam pengelolaan pendidikan. Pada tahun 1982, pengelolaan sekolah-sekolah yang berada di bawah Yayasan Yohannes Gabriel, Yayasan Wijana Sejati, dan Yayasan Wiyata Dharma dipusatkan dalam satu manajemen bersama bernama YYG–WS–WD.
Kolaborasi ini mendorong perkembangan dalam bidang persekolahan, tata kelola, dan manajemen pendidikan seiring perkembangan Gereja dan masyarakat.
Buletin pendidikan terbitan Yayasan Yohannes Gabriel-Wijana Sejati-Wiyata Dharma (1975). Klik untuk memperbesar.
Geliat dan Pasang Surut
Dalam periode ini, Yayasan menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, terutama terkait formulasi hubungan antar tingkat kepengurusan dalam organisasi.
Meski menghadapi berbagai dinamika, YYG–WS–WD tetap berkomitmen menjaga kualitas dan keberlangsungan sekolah-sekolah di berbagai daerah. Semangat pelayanan pendidikan terus dijaga agar karya Yayasan tetap hidup dan berkembang.
Lokakarya kepala TK-SD-SMP-SMA-SMK Yayasan YG-WS-WD Keuskupan Surabaya (1995). Klik untuk memperbesar.
Menjadi Satu Tubuh dalam Satu Roh
Perjalanan panjang pengelolaan sekolah-sekolah YYG–WS–WD mencapai babak baru pada 14 Agustus 2002, ketika ketiga yayasan resmi dilebur menjadi satu, yaitu Yayasan Yohannes Gabriel.
Berlandaskan motto “Ut Omnes Unum Sint” — “Semoga mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21), Yayasan Yohannes Gabriel terus menghidupi semangat persatuan, pelayanan, dan pendidikan tanpa membeda-bedakan suku, budaya, maupun latar belakang.
Hingga saat ini, Yayasan Yohannes Gabriel tetap berkomitmen membangun pendidikan yang humanis, beriman, dan relevan bagi perkembangan zaman.
Semangat pelayanan pendidikan Yayasan Yohannes Gabriel di era modern. Klik untuk memperbesar.
