Sejarah

Sejarah

Sejarah Yayasan

Perjalanan Panjang Dalam Melayani Pendidikan

Sejak tahun 1925, Yayasan Yohannes Gabriel terus menghadirkan karya pendidikan yang transformatif, berintegritas, dan berakar pada nilai-nilai Kristiani.

Membangun Generasi Melalui Pendidikan

Yayasan Yohannes Gabriel hadir sebagai bagian dari perjalanan pelayanan Gereja Katolik dalam bidang pendidikan. Berawal dari karya misi, yayasan terus bertumbuh menjadi lembaga pendidikan yang melayani berbagai generasi dengan semangat iman, kualitas, dan pengabdian.

Hingga saat ini, Yayasan Yohannes Gabriel terus berkembang untuk menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi pelayanan.

History Image
1925–1942

Membuka Jalan Bagi Misi

Yayasan Yohannes Gabriel hadir sebagai ujung tombak karya misi Gereja Katolik melalui bidang pendidikan. Kehadirannya memperkenalkan wajah Gereja yang dekat dengan masyarakat pribumi Jawa dan Tionghoa pada masa itu.

Didirikan pada 21 Oktober 1925 dengan nama Johannes Gabrielstichting oleh Theophiel Emile de Backere dan Cornelius Antonius Clamer, yayasan ini berdiri dua tahun setelah kehadiran Congregatio Missionis (CM) di Surabaya.

Sekolah pertama yang didirikan adalah HIS (Hollandsch Inlandsche School) di Blitar pada 1 Juli 1926, yang kini dikenal sebagai SMA Diponegoro Blitar.

1942–1945

Kejayaan di Tengah Tantangan

Masa pendudukan Jepang menjadi periode penuh tantangan bagi dunia pendidikan. Banyak sekolah negeri maupun swasta ditutup, termasuk sekolah-sekolah misi.

Namun, HIS Yohanes Gabriel di Blitar tetap berupaya mempertahankan keberlangsungan pendidikan. Kepala sekolah saat itu menghadap pemerintah Jepang untuk memohon izin membuka kembali sekolah. Upaya tersebut berhasil, dan pada 28 Mei 1942 HIS Yohanes Gabriel diizinkan kembali beroperasi.

Peristiwa ini menjadi tanda semangat perjuangan dan keteguhan Yayasan dalam melayani pendidikan di tengah situasi sulit.

1945–1960

Pemulihan dan Antisipasi

Setelah masa pendudukan Jepang berakhir, Yayasan Yohannes Gabriel berfokus pada pemulihan karya pendidikan sekaligus mengantisipasi dinamika politik antara Indonesia dan Belanda.

Sebagai langkah strategis, didirikan Yayasan Wijana Sejati pada 7 Juli 1958 untuk menghadapi kemungkinan tantangan yang muncul akibat hubungan politik saat itu. Dalam periode ini, sekitar 40 sekolah berhasil dibangun kembali sebagai wujud kebangkitan dan pemulihan karya pendidikan Yayasan.

1960–1984

Mekar dan Mengakar

Pada tahun 1960, kantor pusat Yayasan Yohannes Gabriel berpindah dari Jl. Kepanjen 9 ke Jl. Dinoyo 42 Surabaya.

Periode ini ditandai dengan perkembangan besar dalam pengelolaan pendidikan. Pada tahun 1982, pengelolaan sekolah-sekolah yang berada di bawah Yayasan Yohannes Gabriel, Yayasan Wijana Sejati, dan Yayasan Wiyata Dharma dipusatkan dalam satu manajemen bersama bernama YYG–WS–WD.

Kolaborasi ini mendorong perkembangan dalam bidang persekolahan, tata kelola, dan manajemen pendidikan seiring perkembangan Gereja dan masyarakat.

1984–1999

Geliat dan Pasang Surut

Dalam periode ini, Yayasan menghadapi berbagai tantangan internal maupun eksternal, terutama terkait formulasi hubungan antar tingkat kepengurusan dalam organisasi.

Meski menghadapi berbagai dinamika, YYG–WS–WD tetap berkomitmen menjaga kualitas dan keberlangsungan sekolah-sekolah di berbagai daerah. Semangat pelayanan pendidikan terus dijaga agar karya Yayasan tetap hidup dan berkembang.

1999–Sekarang

Menjadi Satu Tubuh dalam Satu Roh

Perjalanan panjang pengelolaan sekolah-sekolah YYG–WS–WD mencapai babak baru pada 14 Agustus 2002, ketika ketiga yayasan resmi dilebur menjadi satu, yaitu Yayasan Yohannes Gabriel.

Berlandaskan motto “Ut Omnes Unum Sint” — “Semoga mereka semua menjadi satu” (Yohanes 17:21), Yayasan Yohannes Gabriel terus menghidupi semangat persatuan, pelayanan, dan pendidikan tanpa membeda-bedakan suku, budaya, maupun latar belakang.

Hingga saat ini, Yayasan Yohannes Gabriel tetap berkomitmen membangun pendidikan yang humanis, beriman, dan relevan bagi perkembangan zaman.

x Lightbox Preview
Add Comments
Add Comments